
Lansia 86 Tahun Masih Memulung Demi Makan
terkumpul dari target Rp 75.000.000
Di usia 86 tahun, Abah Rohaman masih berjalan menyusuri jalanan untuk memulung rongsokan. Tubuhnya membungkuk dan langkahnya tertatih dengan bantuan tongkat. Setiap hari, Abah menempuh jarak yang jauh, melewati jalan raya, pasar, dan pabrik, demi memastikan ia dan istrinya bisa makan hari itu.
Abah tinggal bersama istrinya, Mak Titi. Keduanya hidup sederhana, menggantungkan hari dari rongsokan yang Abah kumpulkan. Dalam dua minggu, hasilnya kadang hanya sekitar seratus ribu rupiah, jumlah yang sering kali tak cukup untuk makan sehari-hari. Tak jarang Abah berangkat tanpa sarapan, menahan lapar, hingga sakit maag menyerang. “Nanti aja makannya,” katanya pelan, seolah rasa lapar bisa ditunda.
Padahal Abah memiliki riwayat penyakit jantung dan sering merasakan nyeri di kaki. Kondisi ini membuatnya beberapa kali terpaksa berhenti bekerja karena tak sanggup menahan sakit. Jarak ke rumah sakit yang jauh dan harga obat yang tak terjangkau memaksanya bertahan dengan obat racikan seadanya, atau merendam kaki dengan air panas saat rasa sakit datang.
Dulu, Abah dikenal sebagai pekerja keras. Apa pun ia kerjakan, seperti buruh tani atau kerja serabutan asal bisa menghasilkan. Tapi waktu dan usia tak bisa diajak kompromi. Kini, tenaganya tak lagi sekuat dulu. Namun rasa malu untuk meminta membuat Abah tetap memaksakan diri. “Kalau Abah ga cari rongsokan,” ucapnya lirih, “nanti makan apa?”
Mari bantu Abah wujudkan harapan sederhananya untuk bisa berobat, memiliki tubuh yang sedikit lebih sehat, dan suatu hari bisa beristirahat di rumah tanpa harus memulung lagi.
Lansia 86 Tahun Masih Memulung Demi Makan
terkumpul dari target Rp 75.000.000
