
Langkah Pincang Difabel Menopang Hidup Keluarganya
terkumpul dari target Rp 50.000.000
“Aep lahir dengan tubuh yang tak pernah benar-benar kuat. Namun hidup memaksanya menjadi yang paling kuat di rumah.”
Sejak hari pertama mengenal dunia, Aep (40) sudah akrab dengan rasa sakit. Cerebral palsy membuat tubuhnya tak pernah bergerak seluwes orang lain. Langkahnya pincang, otot-ototnya kaku, dan kata-katanya sering keluar terbata. Berdiri terlalu lama membuat tubuhnya gemetar. Berjalan sedikit lebih jauh membuat napasnya habis dan dadanya sesak.

Namun hidup tak pernah memberinya pilihan untuk menyerah. Aep tumbuh dengan satu keyakinan sederhana “selama tubuh ini masih bisa bergerak, saya harus bertahan”. Keyakinan itu ia genggam erat, hingga 11 tahun lalu, saat hidupnya benar-benar berubah.
Hari itu, ayahnya, Pak Ade (63), terjatuh dari pohon. Kejadiannya singkat, tapi dampaknya seumur hidup. Sejak saat itu, Pak Ade lumpuh total, tak lagi bisa bekerja, tak mampu bangun dari tempat tidur, tak sanggup mengurus dirinya sendiri.
Dan sejak hari itu pula, Aep yang bahkan kesulitan menopang tubuhnya sendiri harus menjadi penopang utama keluarga.

Ibunya, Bu Nengsih (61), tak tinggal diam. Di usia yang tak lagi muda, ia bekerja sebagai buruh serabutan di kebun milik tetangga. Pagi berangkat dengan harapan, sore pulang dengan ketidakpastian. Kadang ada upah, sering kali tidak. Penghasilannya tak menentu, dan hampir selalu tak cukup untuk kebutuhan harian serta obat-obatan suaminya.
Setiap pagi, saat sebagian orang masih menyiapkan hari, Aep sudah memaksa tubuhnya bangun, tubuh yang belum pulih dari kelelahan kemarin. Dengan langkah tertatih, ia berjalan dari rumah ke rumah, menjajakan jajanan titipan tetangga.

Langkahnya pelan. Jalannya tak seimbang. Berkali-kali ia harus berhenti, sekadar mengatur napas dan menenangkan tubuhnya yang gemetar.
Tak jarang, rasa sakit itu datang bersama hal-hal yang tak terlihat, tatapan heran, bisik-bisik, ketidaksabaran, ada pembeli yang tak menunggu ucapannya selesai, ada pula yang memilih pergi tanpa membeli apa pun. Namun Aep tetap melangkah. Karena di rumah, ada ayahnya yang menunggu makan dan obat. Karena ada ibunya yang pulang dengan tubuh lelah dan tangan kosong.
Dalam sehari, Aep hanya membawa pulang sekitar Rp20.000–Rp25.000. Kadang cukup namun sering kali tidak. Bahkan tak jarang ia pulang hampir tanpa apa-apa. Ia berjalan hingga malam, menyusuri jalanan gelap sendirian bukan karena ingin, tapi karena harus.
Setiap langkah adalah rasa sakit. Setiap malam adalah kelelahan. Namun setiap pagi, Aep akan kembali bangun dan mengulang semuanya dari awal.

Di rumah kecil mereka, atap bocor menjadi teman setia saat hujan turun. Dinding kayu mulai lapuk. Lantai dingin dan lembap. Di sanalah Aep merawat ayahnya setiap hari menyuapi dengan tangan yang gemetar, menyeka tubuh yang tak lagi bisa bergerak, menemani dalam diam, doa, dan rasa bersalah yang terus ia pendam. “Kalau kondisi saya tidak seperti ini, saya ingin kerja lebih keras buat bapak dan ibu,” ucap Aep lirih. Kalimat sederhana itu menyimpan penyesalan yang terlalu berat untuk seorang anak.
Aep tak bermimpi besar. Ia tak meminta hidup yang mewah.
Ia hanya ingin ayahnya mendapatkan perawatan yang layak.
Ia hanya ingin ibunya tak lagi memaksakan tenaga di kebun demi penghasilan yang tak pasti.
Ia hanya ingin bisa berjualan dari rumah, tanpa harus memaksa tubuhnya yang semakin lemah berjalan jauh setiap hari. Ia hanya ingin hujan tak lagi menetes ke dalam rumah mereka.
Insan Baik. Hari ini, Aep tidak sedang mencari belas kasihan. Namun ia sedang menggantungkan harapan.
Harapan bahwa perjuangan seberat ini tidak harus ia pikul sendirian. Harapan bahwa masih ada orang-orang baik yang bersedia berjalan bersamanya.
Mari bantu Aep hari ini. Karena tubuh yang rapuh ini telah terlalu lama memikul beban yang terlalu berat.
Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk modal usaha Aep, penunjang kesehatan ayah Aep, serta penerima manfaat dan program sosial lainnya di bawah naungan Amal Baik Insani.
Langkah Pincang Difabel Menopang Hidup Keluarganya
terkumpul dari target Rp 50.000.000
