
Langkah Renta Abah Tibi Berjuang Demi Makan Keluarga
terkumpul dari target Rp 50.000.000
“Jangan Biarkan Abah Tibi dan Keluarganya Menghabiskan Usia dengan Lapar”.
Di usia 80 tahun, ketika kebanyakan orang berharap bisa beristirahat, Abah Tibi justru masih harus berjalan jauh setiap hari dengan tubuh yang semakin rapuh. Bukan karena ia ingin, tetapi karena jika ia berhenti, keluarganya tidak akan makan hari itu.

Abah Tibi tinggal di sebuah rumah tua yang nyaris roboh bersama ibunya yang berusia 96 tahun yang kini hanya bisa terbaring lemah serta anak bungsunya, Idan (7 tahun), yang mengalami gangguan kecerdasan mental. Idan belum mengerti arti lapar, belum paham arti kehilangan. Yang ia tahu hanya bahwa ayahnya adalah satu-satunya tempat bergantung.

Sementara itu, sang istri terpaksa bekerja jauh sebagai asisten rumah tangga di luar kota. Ia meninggalkan rumah bukan karena ingin, melainkan karena keadaan memaksa. Sejak saat itu, Abah Tibi memikul semuanya sendirian.
Setiap pagi, Abah berangkat dengan tongkat di tangan dan pikulan pisang di bahu. Ia menjual pisang milik tetangga tanpa modal, berjalan puluhan kilometer menyusuri kampung demi kampung. Namun penghasilan Abah sangat tidak menentu, kadang hanya Rp10.000, kadang Rp20.000, dan sering kali tidak ada sama sekali. Ada hari-hari ketika Abah pulang dengan dagangan masih penuh dan perut kosong, lalu harus menahan lapar bersama ibu dan anaknya.

Usia yang semakin senja membuat segalanya terasa lebih berat. Pendengarannya mulai hilang. Saat pembeli memanggil, Abah tak mendengar. Dagangan tak terjual. Kesempatan berlalu begitu saja. Ketika hujan turun, langkah Abah semakin gontai, dan rumah reyot itu kembali menyambutnya dengan dingin dan kecemasan.

Abah Tibi tidak pernah meminta lebih. Ia hanya ingin bisa makan setiap hari. Ia ingin mengobati ibunya yang sakit. Ia ingin menjaga Idan agar tetap hidup dan tumbuh, meski dengan segala keterbatasannya. Ia juga ingin sedikit modal agar bisa berdagang tanpa harus berjalan sejauh itu, serta rumah yang aman agar tidak runtuh saat hujan datang.

Hari ini, Abah Tibi masih bertahan. Namun sampai kapan tubuh renta itu sanggup melangkah?
Insan Baik, Satu kebaikan Anda hari ini bisa menentukan apakah Abah Tibi dan keluarganya makan atau menahan lapar.
Mari ulurkan tangan sekarang. Karena bagi Abah Tibi, bantuan Anda bukan sekadar pertolongan—melainkan alasan untuk terus bertahan hidup.
Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk pemenuhan penunjang kebutuhan Abah Tibi dan keluarga. Juga akan digunakan untuk penerima manfaat dan program sosial kemanusiaan lainnya dibawah naungan Amal Baik Insani.
Langkah Renta Abah Tibi Berjuang Demi Makan Keluarga
terkumpul dari target Rp 50.000.000
