
Abah Hendi Bertahan di Usia Senja Tanpa Keluarga
terkumpul dari target Rp 50.000.000
Abah Hendi, 65 tahun, tak pernah membayangkan bahwa masa tuanya akan dilalui dalam sunyi yang begitu panjang. Di usia ketika banyak orang tua dikelilingi anak dan cucu, Abah justru menjalani hari-harinya seorang diri, tanpa istri, tanpa anak, tanpa siapa pun yang menunggu kepulangannya.
Setiap malam, Abah merebahkan tubuhnya di sebuah gubuk kecil yang nyaris roboh. Atapnya bocor, meneteskan air hujan tepat di dekat kepalanya. Gelap, dingin, dan sepi menyelimuti ruang sempit itu. Angin masuk dari celah-celah dinding bambu, menusuk tulang yang sudah rapuh dimakan usia. Namun rasa dingin itu tak pernah sedingin kesepian yang ia rasakan sejak istrinya meninggal sepuluh tahun lalu. Sejak hari itu, hidup Abah seolah berjalan tanpa arah, hari demi hari hanya diisi dengan bertahan hidup.
Pagi hari, dengan langkah tertatih dan tubuh yang semakin lemah, Abah memanggul beberapa sisir pisang titipan tetangga. Ia berjalan jauh, menyusuri jalan demi jalan, menahan nyeri di lutut dan punggungnya. Tak ada kendaraan, tak ada pilihan lain. Jika nasib sedang baik, hasil jualannya hanya sepuluh atau dua puluh ribu rupiah. Jumlah yang sering kali bahkan tak cukup untuk makan sehari.

Namun sering juga, pisang-pisang itu tak laku sama sekali. Saat itu terjadi, Abah tak langsung pulang. Karena pulang berarti menghadapi perut kosong dan rumah bocor yang dingin. Ia memilih tidur di emperan toko, beralaskan kardus lusuh, memeluk dagangannya seolah memeluk sisa harapan. Malam dilewati dengan perut perih, berharap esok hari ada tangan baik yang membeli pisangnya.
Dan terkadang, harapan itu tak datang berhari-hari. Pernah, Abah Hendi tidak makan selama tiga hari penuh. Tiga hari pagi, siang, dan malam perutnya kosong. Tubuhnya lemas, kepalanya pusing, namun ia tetap bertahan. Air putih menjadi satu-satunya pengganjal lapar.

Dengan suara parau dan tatapan kosong, Abah pernah berkata, “Abah pernah nggak makan tiga hari. Dari pagi sampai malam cuma nahan lapar. Cuma bisa berharap besok ada yang beli pisang Abah.”
Suatu hari, seorang warga memberinya sebungkus nasi. Abah menerimanya dengan tangan gemetar dan hati penuh syukur. Namun saat dibuka, nasi itu sudah basi, berlendir dan berbau. Tapi apa arti bau dan rasa, ketika perut sudah tak sanggup menahan lapar? Dengan sabar, Abah mencuci nasi tersebut, memasaknya kembali hingga menjadi bubur. “Daripada nggak makan sama sekali,” ucapnya lirih, menahan air mata.
Bayangkan… Seorang kakek berusia 65 tahun, yang seharusnya menikmati masa tua dengan tenang, justru harus memilih antara makan nasi basi atau tidak makan sama sekali. Harus memilih antara tidur kehujanan di rumah bocor atau beralaskan kardus di emperan toko.

Abah Hendi tidak meminta hidup mewah. Tidak meminta belas kasihan berlebihan. Ia hanya ingin bisa makan setiap hari tanpa rasa takut. Ia ingin memiliki sedikit modal agar bisa berjualan sendiri, tanpa harus berjalan jauh dengan tubuh yang semakin rapuh. Ia ingin atap rumahnya diperbaiki, agar hujan tak lagi membasahi tempat tidurnya.
Dengan mata yang menyimpan harapan kecil, Abah berkata, “Abah pengin punya modal sedikit… pengin jualan sendiri… pengin rumah Abah nggak bocor lagi.” Harapan itu sederhana. Namun waktu terus berjalan. Usia Abah terus bertambah. Dan setiap hari yang berlalu tanpa bantuan, berarti satu hari lagi Abah harus menahan lapar dan dingin sendirian.

Kita mungkin tak bisa mengembalikan istri dan keluarga yang telah tiada. Namun kita bisa menjadi keluarganya hari ini. Keluarga yang hadir, keluarga yang peduli, keluarga yang tidak membiarkan seorang kakek tua berjuang sendirian demi sesuap nasi.
Insan baik, jangan tunda kebaikan. Karena lapar tidak bisa menunggu. Karena usia Abah Hendi tak bisa diputar ulang.
Sekecil apa pun bantuan kita hari ini, bisa menjadi alasan Abah Hendi untuk bertahan hidup esok hari.
Mari bantu Abah Hendi menjalani sisa hidupnya dengan lebih layak, sebelum semuanya terlambat.
Disclaimer: Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk pemenuhan kebutuhan penunjang Abah Hendi, serta untuk penerima manfaat dan program sosial kemanusiaan lainnya di bawah naungan Amal Baik Insani.
Abah Hendi Bertahan di Usia Senja Tanpa Keluarga
terkumpul dari target Rp 50.000.000
