
Nafas Tersenggal Bersama Obati Lansia Pejuang Nafkah
terkumpul dari target Rp 50.000.000
"Kalau jalan suka sesak, mau berobat gak ada biaya. Buat makan juga harus jualan sampai malam biar bisa beli beras", bayang perih kehidupan diujar tubuh kering yang sedang terengah.
Di usia 80 tahun, Abah Komar dengan ikhlas mengukur jalanan dengan kaki renta demi menjalani pengobatan. Pikulan pisang dan jagung menjadi tumpuan kehidupan Abah saat ini. Jarak panjang perjuangan sejauh 10 kilometer ditempuh dengan nafas yang terus tersenggal karena sesak yang diderita. Langkah gemetar, hujan dan lapar berpadu merdu mengisyaratkan kelu yang tak berkesudahan.

Tak ada yang bisa Abah Komar lakukan saat sesak menyapa tanpa aba-aba, hanya mengatur nafas dan menahan rasa sakit yang ada. Langkahnya sering terhenti saat berjualan karena sesak yang tiba-tiba. Jauh dari kata mampu untuk berobat, beliau hanya bisa menyimpan angan untuk bernafas lega bahkan sekedar membeli obat warung pun abah tak bisa.

Sepeninggalan istrinya, Abah tinggal sebatangkara di sebuah gubuk kecil penuh celah dan kesunyian. Angin malam dengan mudah menusuk tubuh ringkih yang seringkali susah terlelap menahan sesak itu. Tak jarang, perut kosong menemani lelap Abah sepanjang malam.

Di balik usaha Abah Komar terselip banyak harap. Kesembuhan ingin beliau rasakan, berusaha tanpa berkeliling selalu beliau harapkan dan tinggal di rumah layak menjadi asa besar yang hanya tersimpan di dalam angan.

Insan Baik, mari bersama ikhtiarkan pengobatan dan patungan hunian layak untuk Abah Komar. Sekecil apapun bantuan kita adalah nafas lega untuk Abah Komar.
Disclaimer: Donasi yang terkumpul akan disalurkan untuk pengobatan Abah Komar, modal usaha, renovasi rumah dan operasional yayasan pendamping. Sebagian donasi akan disalurkan untuk penerima manfaat lain di bawah naungan Amal Baik Insani.
Nafas Tersenggal Bersama Obati Lansia Pejuang Nafkah
terkumpul dari target Rp 50.000.000
