
Nenek Penjual Cilok Meski Tubuh Tak Lagi Kuat
terkumpul dari target Rp 60.000.000
Di usia 92 tahun, saat sebagian besar orang hanya bisa berbaring dan bergantung pada orang lain, Mak Onah justru masih memikul beban hidup dengan tubuh yang sudah bungkuk dan rapuh. Setiap pagi, sebelum hiruk-pikuk jalanan dimulai, ia bangun dengan lutut yang nyeri dan punggung yang tak lagi tegak. Tangannya yang keriput bergerak perlahan, mencampur adonan cilok—bukan karena hobi, tetapi karena hidup menuntutnya untuk tetap bertahan.

Mak Onah tinggal di sebuah rumah sederhana bersama anak perempuannya yang sudah lama kehilangan suami. Anak itulah satu-satunya tempat Mak Onah bersandar. Dengan penuh kesabaran, sang anak membantu membuat cilok, membungkusnya, bahkan ikut menemani berjualan. Tak ada keluhan dari mereka, meski hidup sering terasa berat. Di rumah kecil itu, tak ada tabungan, tak ada jaminan hari esok—yang ada hanya usaha hari ini agar bisa makan hari ini.

Setiap hari Mak Onah berjualan di depan toko milik orang lain yang ramai. Ia tak punya lapak, hanya duduk bersandar dengan tubuh membungkuk, berharap ada pembeli yang berhenti. Penghasilannya tak pernah pasti. Kadang ia pulang membawa 15 hingga 20 ribu rupiah, tapi sering kali uang itu hanya cukup untuk mengembalikan modal. Bahkan ada hari-hari di mana Mak Onah tidak membawa pulang apa-apa, selain rasa lelah dan kaki yang bengkak. Demi bisa tetap berjualan, Mak Onah kerap berhutang terlebih dahulu untuk modal, dengan harapan esok hari ada rezeki yang lebih baik.

Untuk pulang, Mak Onah biasanya naik ojek, karena kakinya tak lagi kuat berjalan jauh. Namun ketika uang tak tersisa, ia tak punya pilihan lain selain berjalan pelan menyusuri jalanan, menahan nyeri di setiap langkah. Jalanan itu tak ramah bagi tubuh renta sepertinya. Beberapa kali Mak Onah terjatuh, dan tak jarang terserempet kendaraan saat berjualan di pinggir jalan. Meski begitu, ia tak pernah berhenti. Bukan karena ia kuat, tetapi karena ia tak punya pilihan lain.

Suami Mak Onah telah lama meninggal dunia. Sejak saat itu, hidupnya terasa makin sunyi dan berat. Namun Mak Onah bukan perempuan yang banyak mengeluh. Di balik wajahnya yang penuh keriput, tersimpan kesabaran panjang dan doa yang tak pernah putus. Harapannya sangat sederhana—ia tak meminta harta atau kemewahan. Mak Onah hanya ingin punya warung kecil di dekat rumah, agar bisa berjualan tanpa harus jauh-jauh, tanpa harus takut jatuh di jalan, dan tanpa harus bergantung pada hutang.

Di usianya yang sudah sangat senja, Mak Onah seharusnya menikmati hari dengan istirahat dan ketenangan. Namun kenyataan berkata lain. Setiap cilok yang dijualnya bukan sekadar makanan, melainkan bukti perjuangan seorang nenek yang masih ingin hidup dengan cara yang terhormat. Di balik tubuh bungkuknya, Mak Onah mengajarkan satu hal: bahwa ketabahan tak selalu ditunjukkan dengan suara keras, tapi dengan langkah kecil yang tak pernah berhenti, meski sering terluka.

Orang baik maukah kalian membantu meringankan beban mak onah sedikit bantuan dari kalian akan sangat berarti bagi mak onah dan keluarga.
Disclaimer: dana yang terkumpul akan di gunakan oleh Mak onah untuk kebutuhan sehari-hari,modal usaha,dan untuk mendukung penerima manfaat lainya di bawah naungan YAYASAN LENTERA PIJAR KEBAIKAN.
Nenek Penjual Cilok Meski Tubuh Tak Lagi Kuat
terkumpul dari target Rp 60.000.000
