
Yatim Yang Berjualan Roti Untuk Bertahan Hidup
terkumpul dari target Rp 60.000.000
Rasty baru berusia 7 tahun. Tubuhnya kecil, namun hidup sudah memintanya untuk menjadi kuat lebih cepat dari seharusnya. Ia adalah anak yatim. Ayahnya entah kemana, dan ibunya telah lama meninggal. Rasty sendirian menghadapi dunia.

Rasty tinggal di sebuah kontrakan kecil yang sederhana yang kurang layak. Bukan miliknya, tapi milik seorang baik hati yang mengizinkannya tinggal tanpa meminta bayaran. Dindingnya tipis, lantainya dingin, namun di situlah Rasty menyebutnya rumah. Setiap malam ia tidur sendiri, memeluk tas sekolahnya seolah itu pelukan orang tua yang ia rindukan.

Sepulang sekolah, saat anak-anak lain bermain, Rasty mengambil keranjang roti diwarung orang lain, ia berjalan menyusuri gang-gang sempit, menawarkan roti satu per satu.
“Roti… rotinya…” suaranya pelan, kadang hampir tak terdengar.

Tak selalu habis. Tapi jika hari itu ia mendapat 10 ribu rupiah, hatinya sudah sangat bersyukur. Uang itu cukup untuk membeli nasi dan mie sederhana. Tidak ada jajan, tidak ada mainan. Yang ada hanya satu tujuan: bisa makan hari ini.

Semua ia kerjakan sendiri. Bangun pagi, menyiapkan seragam, berangkat sekolah, lalu berjualan hingga senja. Saat malam tiba, Rasty sering menatap langit dari depan kontrakan kecilnya. Dalam diam, ia berdoa.
“Bu… Yah… Rasty kuat, kan?”

Air matanya jatuh, tapi ia cepat mengusapnya. Rasty tahu, jika ia berhenti, tak ada siapa pun yang akan menggantikannya. Meski begitu, di dalam hatinya masih ada harapan kecil—harapan bahwa suatu hari nanti hidupnya akan lebih baik.
Karena meski dunia terasa kejam, Rasty memilih untuk tetap bertahan… dengan roti, doa, dan hati kecil yang penuh ketabahan.
jika ingin makan ia hanya makan sederhana terkadang ia di kasih oleh tetangganya yang kasihan padanya atau uang yang ia dapatkan hanya cukup untuk ia membeli mie instan saja.

Di dalam hatinya, Ade Resti memiliki keinginan sederhana:seragam baru dan ia ingin memiliki alat-alat sekolah yang layak, seperti buku baru, pensil, pulpen, dan tas yang kuat agar ia bisa belajar dengan lebih nyaman dan percaya diri.
Baginya, alat sekolah bukan sekadar benda, tetapi jembatan untuk meraih cita-cita. selain itu ade resti mengingikan modal usaha yang sederhana , dan bantuan yang layak untuk manfaat hidup nya .
Disclaimer: dana yang terkumpul akan di gunakan oleh Dek Rasty untuk kebutuhan sehari-hari,modal usaha,dan untuk mendukung penerima manfaat lainya di bawah naungan YAYASAN LENTERA PIJAR KEBAIKAN.
Yatim Yang Berjualan Roti Untuk Bertahan Hidup
terkumpul dari target Rp 60.000.000
