
Mengais Rongsokan Menjaga Hidup di Tengah Asma
terkumpul dari target Rp 60.000.000
Di sudut jalan yang jarang orang perhatikan, Abah Warjo mendorong troli tuanya pelan-pelan. Usianya sudah 80 tahun. napasnya sering tersengal karena asma, dan lututnya nyeri setiap kali melangkah. Tapi Abah tetap berjalan. Bukan karena kuat, melainkan karena hidup tak memberinya pilihan lain.

Istri tercinta yang dulu selalu menunggunya di rumah telah lama meninggal. Sejak itu, rumah kecil Abah terasa sunyi. Tak ada lagi suara yang menyuruhnya beristirahat, tak ada lagi tangan yang menyiapkan teh hangat saat malam tiba. Abah sebatang kara.

Setiap hari, Abah mengumpulkan rongsok—botol bekas, kardus, apa saja yang masih bisa dijual. Terkadang tiga hari penuh bekerja, hasilnya hanya Rp15.000. Uang itu Abah simpan rapat-rapat, cukup untuk sekadar membeli. Jika hujan turun atau asma kambuh, Abah tak bisa keluar. Artinya, hari itu Abah harus menahan lapar.

Meski tubuhnya rapuh, hati Abah masih menyimpan harapan. Abah sering berbisik pelan, seolah berbicara pada almarhum istrinya,
“Kalau Abah punya sedikit modal, Abah ingin buka warung kecil. Jual kopi, mie instan, gula… Biar Abah tak perlu dorong troli lagi.”

Bukan mimpi besar. Abah hanya ingin hidup dengan lebih tenang di sisa usia. Duduk di balik warung kecilnya, menyapa orang-orang lewat, dan menunggu senja tanpa rasa takut akan hari esok.

Abah Warjo bukan meminta dikasihani. Ia hanya ingin kesempatan—kesempatan untuk tetap bertahan, dengan cara yang lebih manusiawi.
Di luar sana, mungkin kita sering lupa, bahwa harapan sekecil apa pun bisa menjadi alasan seseorang untuk terus hidup.
Disclaimer: dana yang terkumpul akan di gunakan oleh Abah Warjo untuk kebutuhan sehari-hari,modal usaha,dan untuk mendukung penerima manfaat lainya di bawah naungan YAYASAN LENTERA PIJAR KEBAIKAN.
Mengais Rongsokan Menjaga Hidup di Tengah Asma
terkumpul dari target Rp 60.000.000
