
Bantu Lansia Sebatang Kara Tak Hidup Kelaparan
terkumpul dari target Rp 50.000.000
"Udah 5 tahun Emak ngesot, cuma hidup sendiri gak ada yang ngurus.. harus bisa usaha buat bertahan hidup", ujar pasrah terucap terengah oleh binar mata yang kosong itu.
Di usia yang hampir menyentuh satu abad, Emak Fatimah (90 tahun) menjalani hari-harinya seorang diri, dengan tubuh yang semakin terbatas dan rapuh. Sejak suaminya meninggal sekitar sepuluh tahun lalu, Emak hidup tanpa pendamping. Tak ada anak yang menemani, tak ada keluarga yang bisa diandalkan. Semua dijalani sendiri oleh tubuh renta yang dipaksa kuat itu.

Beberapa tahun lalu, sebuah ledakan gas di rumah kecilnya melukai kedua kaki Emak dengan cukup parah. Luka itu tak pernah benar-benar pulih. Sejak kejadian tersebut, kaki Emak tak lagi mampu menopang tubuhnya. Untuk berpindah tempat, Emak hanya bisa menggeser tubuhnya perlahan dengan bertumpu pada tangan dan lutut, cara yang menyakitkan tapi terpaksa beliau lakukan agar tetap bisa bergerak.

Namun, keterbatasan itu tak menghentikan Emak untuk berjuang.
Dengan sisa tenaga yang ada, Emak tetap berjualan sapu lidi keliling. Setiap hari beliau menyusuri jalan, menyeret tubuhnya perlahan, berharap ada orang yang berkenan membeli sapu lidi dagangannya. Meski hasilnya sangat kecil, sering kali hanya cukup untuk makan hari namun itu sudah lebih baik daripada harus menahan lapar.

Setiap kali keluar rumah, Emak menghadapi risiko besar. Penglihatannya mulai kabur, pendengarannya pun tak lagi setajam dulu. Saat harus melintas atau berjualan di pinggir jalan besar, Emak sering tak menyadari kendaraan yang melaju kencang di dekatnya. Tubuhnya kecil, geraknya lambat, dan suaranya nyaris tak terdengar. Dalam kondisi seperti itu, satu kelengahan saja bisa membahayakan nyawa beliau.

Tak jarang Emak harus berhenti lama di pinggir jalan, bukan karena ingin beristirahat, tetapi karena tubuhnya tak sanggup bergerak lebih jauh. Tangan yang menopang tubuhnya terasa perih dan gemetar. Kadang Emak terjatuh dan kesulitan bangkit sendiri. Namun Emak tetap bertahan. Karena jika hari itu beliau tak berjualan, maka malam itu beliau tak bisa makan.

Di usia senja, ketika seharusnya dilindungi dan dirawat, Emak Fatimah justru harus mempertaruhkan keselamatannya sendiri demi bertahan hidup. Beliau tak banyak mengeluh hanya terus bergerak perlahan, membawa sapu lidi dan harapan kecil agar hari ini bisa dilewati tanpa kelaparan.
Insan Baik, perjuangan Emak Fatimah terlalu berat jika harus beliau jalani sendirian.
Bantuan kita bisa membuat Emak tak lagi harus mempertaruhkan tubuh dan nyawanya di jalan besar dan memberinya kesempatan menjalani sisa usia dengan lebih aman dan layak.
Disclaimer: Donasi yang terkumpul akan disalurkan untuk pemenuhan sandang pangan, modal usaha dan operasional yayasan pendamping. Sebagian donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lain di bawah naungan Amal Baik Insani.
Bantu Lansia Sebatang Kara Tak Hidup Kelaparan
terkumpul dari target Rp 50.000.000
