
Perjuangan Ari dengan Satu Tangan Demi Dua Nyawa
terkumpul dari target Rp 50.000.000
“Tangan kanannya sudah hilang, tapi Ari tetap memaksa tubuhnya bekerja demi sesuap nasi. Kini kontrakan hampir digusur, dan ibunya terbaring tanpa obat…”
Di tengah panas terik siang, seorang pria muda tampak berjalan tertatih membawa barang jualannya, aksesoris sederhana seperti gelang, kalung, gantungan kunci. Tangannya hanya satu. Tapi langkahnya tak berhenti. Itulah Ari Saputra (29), ayah dan anak yang kini menanggung hidup keluarganya seorang diri.
Tiga tahun lalu, Ari adalah tulang punggung keluarga kecilnya. Ia bekerja di proyek bangunan, penuh semangat dan tanggung jawab. Bersama sang istri tercinta dan anak semata wayangnya, Rendi (8), ia bermimpi bisa memiliki rumah sederhana dan kehidupan yang layak. Namun takdir berkata lain. Sebuah kecelakaan kerja merenggut tangan kanannya. “Waktu sadar tangan saya udah gak ada… rasanya dunia berhenti,” kenang Ari, matanya berkaca-kaca.

Hari itu, bukan hanya tangannya yang hilang tapi juga mata pencahariannya. Sejak kehilangan pekerjaan, Ari harus berjuang keras menahan rasa malu, takut, dan putus asa. Ia bahkan sempat berpikir hidupnya sudah berakhir. Namun di tengah keterpurukan, istrinya justru tetap setia mendampingi, meski akhirnya harus merantau ke luar kota demi membantu ekonomi keluarga.
Tapi ujian belum selesai. Tiga bulan lalu, ibunya terjatuh di kamar mandi. Akibatnya, kini ibunda Ari lumpuh total dan hanya bisa berbaring di kasur tipis, menatap langit-langit rumah sambil menahan sakit di kakinya yang tak lagi bisa digerakkan. Sejak saat itu, Ari memegang dua peran sekaligus, menjadi ayah bagi Rendi, dan menjadi perawat penuh kasih bagi ibunya yang lumpuh.


Setiap pagi, dengan sisa tenaga dari satu tangan, Ari berkeliling kampung menjajakan hasil kerajinan kecil yang ia buat sendiri. Kadang dagangannya laku, tapi sering kali tidak. “Kadang cuma dapat 20 ribu, kadang malah 10 ribu. Kalau gak laku ya gak makan, tapi ya tetap harus semangat” Uang sebanyak itu tentu tak cukup. Kontrakan yang mereka tempati kini sudah menunggak dua bulan.

Di malam-malam sunyi, Ari sering menangis dalam diam. Ia takut, bukan pada nasibnya sendiri, tapi pada masa depan anaknya dan kondisi ibunya yang semakin lemah. “Kalau tangan saya gak diamputasi, mungkin saya bisa kerja di tempat lain, bisa kasih yang lebih buat mereka” ucapnya lirih.
Namun, di balik luka dan lelah itu, Ari masih punya mimpi. Mimpi sederhana tapi penuh makna, yaitu punya usaha kecil di rumah sendiri. Ia ingin berjualan dari rumah, agar bisa tetap menjaga ibu dan anaknya tanpa harus keliling dari pagi hingga malam. “Saya cuma pengen punya modal usaha kecil, biar bisa jualan dari rumah aja. Jadi bisa ngawasin Rendi sekolah dan ngerawat ibu. Kalau bisa, juga saya pengen bawa ibu berobat, biar bisa jalan lagi”

Tapi tanpa bantuan, mimpi itu mungkin akan tinggal mimpi. Kini, Ari benar-benar berada di ujung perjuangannya. Tubuhnya mulai melemah, dagangannya semakin sepi, dan waktu terus berjalan, membawa ancaman penggusuran kontrakan yang sudah menunggak.
Insan Baik, tanpa bantuan kita, mungkin Ari akan terus memaksa tubuhnya berjalan dengan sisa tenaga, menahan sakit dan letih demi sesuap nasi. Sementara ibunya hanya bisa menunggu dalam sakit yang belum tahu kapan berakhir.
Mari bantu Ari Saputra bangkit dari keterpurukan. Ia tidak meminta banyak, hanya ingin sedikit kesempatan untuk kembali hidup layak bersama anak dan ibunya.
Dengan sedikit uluran tangan darimu hari ini, kita bisa membantu Ari menata ulang kehidupannya yang hampir runtuh.
Disclaimer : Donasi akan digunakan untuk modal usaha serta penunjang kebutuhan Pak Ari dan keluarga. Juga akan digunakan untuk penerima manfaat dan program sosial lainnya dibawah naungan Amal Baik Insani.
Perjuangan Ari dengan Satu Tangan Demi Dua Nyawa
terkumpul dari target Rp 50.000.000
