
Hidup sebatang kara dengan keterbatasan fisik
terkumpul dari target Rp 50.000.000
Pak Subandi, Hidupnya tak lagi sama sejak kecelakaan tragis pada tahun 2016 yang merenggut kakinya. Bukan hanya kehilangan anggota tubuh, ia juga kehilangan pekerjaan yang dulu menjadi sumber nafkah bagi keluarganya. Namun hidup, sekeras apa pun, tak pernah berhasil meruntuhkan semangatnya.

Setelah masa panjang menyesuaikan diri, Abah Subandi menemukan kembali cahaya kecil dalam hidupnya: kreativitas. Dengan segala keterbatasan fisik, ia justru menghasilkan karya yang tak kalah dari orang-orang bertubuh sempurna. Dari tangannya yang kini menjadi satu-satunya tumpuan lahirlah aneka perkakas sederhana: pisau dapur, ulekan bumbu, gergaji kayu, sapu lidi, dan banyak lagi.
Setiap hari, ia duduk di ruang kecil rumah gubuknya, rumah yang dibangunkan oleh teman-teman yang peduli. Di sanalah ia bekerja dari pagi hingga sore, menciptakan perkakas satu per satu dengan penuh ketelitian. Ia tak pernah meminta belas kasihan. Ia hanya ingin tetap bernilai, tetap mampu berdiri dengan caranya sendiri.

Kini pa Subandi hidup seorang diri. Istri dan anaknya sudah tak lagi tinggal bersamanya. Bukan karena ia tak mencintai mereka justru karena terlalu mencintai. Ia memilih berpisah agar tak membebani kehidupan keluarga, sebuah keputusan yang hingga kini menyisakan luka yang tak pernah betul-betul sembuh.
“Saya tahu diri, Neng… karena ekonomi saya seperti ini, makanya saya berpisah dengan istri,” ucapnya pelan, sambil menatap perkakas yang baru selesai ia bentuk.

Ucapan itu sederhana, namun sarat makna. Ada perih yang tak ia tunjukkan, ada tanggung jawab yang terus ia pikul diam-diam. Sebab meski hidup sendiri, ia tetap menyisihkan sebagian penghasilannya untuk kebutuhan sang anak. Baginya, menjadi ayah bukan tentang tinggal serumah melainkan tentang tetap hadir, meski dalam keterbatasan.
Setiap perkakas yang ia jual di pasar atau toko-toko kecil bukan hanya alat, tapi juga cerita tentang ketabahan. Tentang seorang pria yang tertatih namun tak menyerah. Tentang seseorang yang kehilangan begitu banyak, tetapi tetap memilih memberi.

Pa Subandi mungkin hidup sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu, tersembunyi kekuatan hati yang tak semua orang mampu miliki.Semoga kisahnya menjadi pengingat: bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir, dan bahwa harga diri tetap bisa berdiri tegak bahkan ketika kaki tidak lagi ada.
Bantu Pak Subandi Melanjutkan Hidupnya dengan Lebih Layak. Keterbatasan tidak pernah menghentikan Pak Subandi untuk terus berkarya dan bertahan. Namun ia tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan kecil dari kita bisa menjadi harapan besar bagi hidupnya.
Yuk bantu Pak Subandi, setiap donasi sekecil apa pun akan sangat berarti untuk memperbaiki kondisi tempat tinggalnya, membantu kebutuhan sehari-hari, serta mendukung usaha perkakas sederhana yang menjadi sumber penghidupannya. Mari jadi bagian dari kebaikan ini. Karena ketika satu tangan memberi, seribu harapan bisa kembali hidup. KLIK DONASI SEKARANG!
Hidup sebatang kara dengan keterbatasan fisik
terkumpul dari target Rp 50.000.000
