
Dalam Gelap Ijudin Bertahan Menjaga Masa Depan Anak
terkumpul dari target Rp 50.000.000
“Ketika penglihatan direnggut, Ijudin masih harus berjalan jauh, karena menyerah bukan pilihan bagi seorang ayah.”
Di balik hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar peduli, ada perjuangan sunyi yang hampir tak terlihat. Seorang ayah yang melangkah dalam gelap, bukan karena ia menutup mata, tetapi karena cahaya telah direnggut darinya. Namun ada satu hal yang tak pernah bisa diambil siapa pun, cintanya pada sang anak.
Tiga tahun lalu, hidup Ijudin (43) runtuh seketika. Ia kehilangan penglihatannya secara total. Gelap mendadak tanpa aba-aba, tanpa waktu untuk bersiap. Luka itu terasa jauh lebih dalam karena enam tahun sebelumnya, sang istri telah lebih dulu berpulang. Kini, Ijudin hanya hidup berdua dengan satu-satunya buah hatinya. Hifny, bocah 10 tahun yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Mereka menempati kontrakan kecil yang sempit dan jauh dari kata layak. Namun dari ruang sederhana itulah, Ijudin memaksa dirinya untuk tetap kuat. Karena setiap sore, ada suara kecil yang selalu ia tunggu dengan dada berdebar, “Ayah, sudah pulang?” Kalimat sederhana itu menjadi alasan mengapa ia tak boleh menyerah, meski tubuh lelah, meski hati hampir runtuh.

Sejak kehilangan penglihatannya, Ijudin menggantungkan hidup dari berjualan keripik singkong milik tetangga. Setiap pagi ia melangkah keluar rumah hanya berbekal tongkat tunanetra. Tak ada cahaya. Tak ada arah pasti. Hanya langkah kaki yang ragu, suara kendaraan yang berseliweran, dan doa agar hari itu masih memberinya keselamatan.
Penghasilan yang ia peroleh hanya sekitar Rp10.000–Rp20.000 per hari. Bahkan sering kali lebih kecil atau tak ada sama sekali. Pernah suatu hari, Ijudin pulang hanya membawa Rp5.000 karena hanya empat bungkus keripik yang terjual. Jumlah itu mungkin terasa sepele bagi sebagian orang, tetapi bagi Ijudin, itu adalah hasil dari perjuangan mempertaruhkan nyawa.

Karena berjualan dalam kondisi tunanetra bukan hanya melelahkan, ini sangat berbahaya. Pernah suatu ketika, sepeda motor melaju nyaris menyerempet tubuhnya. Tongkatnya tersenggol, tubuhnya hampir terjatuh. Hari itu ia selamat. Tapi esok lusa, tak ada yang bisa ia pastikan.
Setiap hari, risiko itu terus mengintai, setiap langkah bisa menjadi langkah terakhir. Setiap pagi, ia tak pernah tahu apakah akan pulang membawa rezeki atau pulang dengan luka.
Namun setiap kali putus asa datang, setiap kali napasnya terasa berat setelah berjalan jauh, Ijudin selalu membayangkan wajah kecil Hifny. Anak yang menunggunya pulang. Anak yang menjadi satu-satunya alasan ia masih berdiri hari ini.

Dengan suara lirih dan kepala tertunduk, Ijudin berkata, “Semua yang saya lakukan ini demi anak saya satu-satunya. Meski kondisi saya seperti ini, saya tidak akan menyerah.” Itu bukan sekadar kalimat. Itu adalah sumpah seorang ayah yang melawan gelap demi cahaya masa depan anaknya.
Ijudin tidak meminta kemewahan. Ia tidak bermimpi tinggi. Ia hanya ingin satu hal sederhana, anaknya tetap bisa bersekolah, dan mereka memiliki tempat tinggal yang layak, tanpa rasa takut akan hari esok yang lapar.

Jika diberi modal usaha, Ijudin ingin membuka usaha kecil dari rumah. Ia ingin tetap bekerja, tetap mandiri, tetapi dengan cara yang lebih aman dan manusiawi. Tanpa harus mempertaruhkan nyawa setiap hari di jalanan.
Dengan penuh harap, ia mengungkapkan keinginannya, “Saya ingin punya rumah kecil yang layak, dan usaha di rumah supaya tetap bisa bekerja dan menyekolahkan anak saya.”
Insan Baik. Hari ini, kita bisa menjadi alasan Ijudin berhenti berjalan dalam bahaya.
Hari ini, kita bisa menjadi cahaya bagi ayah yang hidup dalam gelap.
Mari wujudkan mimpi sederhana seorang ayah yang tak pernah menyerah.
Karena ketika kita memberi, kita tidak hanya menolong hari ini kita sedang menyelamatkan masa depan.
Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk modal usaha dan penunjang kebutuhan Ijudin serta anaknya. Juga akan digunakan untuk penerima manfaat dan program sosial lainnya dibawah naungan Amal Baik Insani.
Dalam Gelap Ijudin Bertahan Menjaga Masa Depan Anak
terkumpul dari target Rp 50.000.000
