
Perjuangan Pak Ajat Demi Anak Yang Putus Sekolah
terkumpul dari target Rp 50.000.000
Pa Ajat berusia 39 tahun. Usianya masih tergolong muda, tapi hidup telah menempanya lebih keras dari kebanyakan orang. Setiap pagi, Pa Ajat memulai harinya bukan dengan keluhan, tapi dengan langkah. Langkah yang tertatih. Langkah yang perih. Langkah yang tetap dipaksakan. Di usia 39 tahun, ia memikul peran sebagai tulang punggung keluarga. Berjualan asongan keliling, pak ajat berjalan menyusuri jalanan bahkan jarak tempuhnya pun tak main – main bisa lebih dari 10 kilometer setiap hari. Bukan karena kuat, tapi karena harus.
Setiap langkah terasa nyeri seakan menguji seberapa kuat ia mampu bertahan, 12 kali operasi bukanlah sesuatu yang mudah untuk di Jalani bahkan jahitan bekas operasi sering mengeluarkan nanah yang tak bisa di bendung, dengan beriringnya waktu tubuh pak ajatpun ikut terkena imbasnya seperti lututnya yang mulai susah di Gerakan karena pengeroposan tulang. Rasa sakit yang ia alami sudah menjadi teman setia di setiap langkahnya.
Namun Pa Ajat tetap berjalan… demi anak, demi istri, demi dapur yang harus tetap berasap. Ia tak punya rumah.Tak punya harta. Pak ajat memiliki 3 orang anak dua diantaranya harus harus putus sekolah karena biaya tak sanggup dipenuhi. Untuk tempat tinggal Pa Ajat menumpang di rumah mertua. Tanpa banyak pilihan. Namun memiliki banyak harapan. Salah satunya anaknya bisa hidup lebih baik dari dirinya.
Ia tidak meminta. Ia tidak mengeluh. Ia hanya berjuang… dalam diam. Dan mungkin, di luar sana, masih banyak yang tak tahu… bahwa ada seorang ayah yang berjalan di atas rasa sakit demi sesuap nasi.
Mari ulurkan tangan untuk Pa Ajat. Bantu ringankan langkahnya. Bantu sembuhkan lukanya. Bantu kembalikan masa depan anaknya. Donasi sekarang melalui Teman Baik Karena kebaikan kecil dari kita, bisa menjadi harapan besar untuk keluarga Pa Ajat.
Perjuangan Pak Ajat Demi Anak Yang Putus Sekolah
terkumpul dari target Rp 50.000.000
