
TOLONG!! Jualan Sepi Pembeli Nenek Sering Tahan Lapar
terkumpul dari target Rp 45.000.000
Nenek Jaminah, 85 Tahun Tetap Berjualan Sapu Lidi Meski Kakinya Rapuh dan Matanya Rabun
Setiap pagi, tubuh renta itu perlahan bangkit dari tikar usang. Dengan langkah tertatih, Nenek Jaminah (85 tahun) memanggul ikatan sapu lidi di pundaknya. Meski matanya mulai rabun dan kakinya sakit, beliau tetap berjalan keliling kampung, menawarkan sapu satu per satu dengan senyum ramah di wajah keriputnya.

Namun sering kali, senyum itu tak berbalas. Sudah seharian berjualan, tak satu pun sapu lidinya laku terjual. Kadang beliau hanya duduk di tepi jalan, menunggu pembeli yang tak kunjung datang, sambil menahan lapar karena belum makan sejak pagi.

“Kalau nggak jualan, siapa lagi yang mau kasih makan, Nak…” ujar Nenek Jaminah pelan sambil mengusap kakinya yang bengkak.
Sejak suaminya meninggal, Nenek hidup sebatang kara di rumah reyot yang hampir ambruk. Anak-anaknya sudah sibuk dengan kehidupan masing-masing. Kini, beliau hanya ditemani kesepian dan semangat hidup yang luar biasa.
Di usia senjanya, beliau seharusnya bisa beristirahat tenang. Namun demi menyambung hidup, nenek tetap berjualan sapu lidi keliling, meski hasilnya hanya cukup untuk sekadar membeli nasi bungkus.
Kadang, tetangga iba dan memberinya makanan, terutama ketika Nenek terlalu lemah untuk keluar rumah. Bayangkan, di usia 85 tahun, Nenek Jaminah masih harus berjalan jauh dengan kaki yang nyeri, demi sesuap nasi. Tubuhnya lemah, matanya buram, tapi hatinya tetap kuat. #Temanberbagi yuk bantu Nenek Jaminah dengan KLIK DONASI SEKARANG
TOLONG!! Jualan Sepi Pembeli Nenek Sering Tahan Lapar
terkumpul dari target Rp 45.000.000
