
Lansia Pejuang Anak Sakit Langka Dan ODGJ
terkumpul dari target Rp 50.000.000
Di usia yang telah menginjak 70 tahun, Abah Turi masih berusaha berdiri di atas kakinya sendiri. Rambutnya memutih, tenaganya tak lagi utuh, namun tanggung jawab sebagai seorang ayah tak pernah benar-benar berhenti.

Abah Turi memiliki empat orang anak. Ia tinggal berempat dalam kondisi yang sederhana. Untuk menyambung hidup, Abah bekerja serabutan. Saat ada waktu dan tenaga, ia membuat layangan menganyam bambu, merangkai benang, berharap layangan-layangan itu bisa terjual dan menjadi penghidupan hari ini.

Ujian hidup datang silih berganti. Anak keduanya merupakan ODGJ yang membutuhkan perhatian dan pendampingan khusus. Sementara anak keempatnya menderita sakit punggung dengan luka-luka yang belum sembuh, bahkan tampak seperti berlubang dan sering menimbulkan rasa sakit. Melihat anaknya menahan perih, Abah Turi hanya bisa menelan lelahnya sendiri.


Di tengah keterbatasan, Abah tak pernah mengeluh. Ia memilih terus bergerak, meski perlahan. Layangan-layangan buatannya menjadi saksi keteguhan seorang ayah yang tetap berjuang, bukan karena kuat, tapi karena cinta.

Kini, Abah Turi dan keluarganya membutuhkan uluran tangan kita. Sedikit bantuan bisa menjadi harapan besar untuk pengobatan anak-anaknya, untuk keberlangsungan hidup mereka, dan untuk meringankan langkah Abah di usia senja. Yuk, jadi bagian dari harapan Abah Turi. Sekecil apa pun bantuanmu, sangat berarti untuk pengobatan anak-anaknya dan keberlangsungan hidup keluarga kecil ini
Lansia Pejuang Anak Sakit Langka Dan ODGJ
terkumpul dari target Rp 50.000.000
