
Bantu Abah Pepen Demi kehidupan yang layak
terkumpul dari target Rp 50.000.000
Rumah tua yang nyaris roboh dindingnya rapuh, atapnya bocor, dan bila hujan datang, air turun seperti tirai dingin yang membasahi hampir seluruh ruangan. Rumah itu milik Abah Pepen, seorang pria 70 tahun yang masih berjuang dengan seluruh tenaga yang tersisa.

Setiap pagi, saat kebanyakan orang seusianya menikmati masa istirahat, Abah Pepen justru memulai langkah panjangnya. Dengan alat usang yang selalu dibawa dalam kantong kecil, Abah menawarkan jasa memperbaiki payung, jam tangan, hingga kacamata. Apa saja ia kerjakan agar bisa membawa pulang sekadar uang makan untuk dirinya dan sang istri.

Penghasilan Abah hanya sekitar 15–30 ribu rupiah per hari. Itupun sering kali didapat dengan kaki yang gemetar dan tubuh yang menahan sakit. Tak jarang Abah pulang sambil memegangi kakinya yang nyeri karena menempuh perjalanan cukup jauh.

Namun, kesulitan terbesar bukan hanya rasa lelah melainkan rasa takut setiap kali malam tiba dan hujan turun. Air hujan merembes dari atap dan membasahi kasur tempat mereka beristirahat, seakan mengingatkan bahwa rumah itu hampir menyerah pada usia.
“Mi… maaf ya. Bukan nggak mau benerin rumah,” tutur Abah Pepen kepada istrinya yang memandangi genteng bocor. “Dapat buat makan aja udah alhamdulillah. Sabar dulu ya… semoga ada rezekinya nanti kita bisa benerin rumah.”
Kalimat itu sederhana, tapi di baliknya tersimpan keteguhan hati seorang suami… seorang pejuang… yang meski renta, tetap ingin melindungi keluarganya. Abah Pepen tak pernah meminta banyak hanya ingin tidur tanpa takut air hujan, dan dapur tetap berasap meski sekadarnya.

Dan kini, perjuangan Abah bisa kita ringankan bersama. Mari bantu Abah Pepen memiliki rumah layak yang tidak bocor dan tidak lagi membahayakan usianya yang 70 tahun. Kontribusi kecil kita bisa menjadi istirahat besar untuk Abah dan istrinya. Yuk jadi bagian dari kebaikan ini!
Bantu Abah Pepen Demi kehidupan yang layak
terkumpul dari target Rp 50.000.000
