
Perjuangan Abah Pepe Untuk Bertahan Hidup
terkumpul dari target Rp 50.000.000
Abah Pepe kini hidup seorang diri di usia lebih dari 70 tahun. Ia tidak memiliki istri, tidak memiliki anak, dan tidak ada keluarga yang menemani hari-harinya. Hidupnya dijalani dalam kesunyian, hanya ditemani tubuh yang semakin renta dan gubuk kecil tempat ia berteduh. Rumah Abah Pepe terbuat dari bambu dan kondisinya sudah hampir rubuh. Bangunannya berdiri miring di atas tanah yang tidak rata, membuat siapa pun yang melihatnya merasa khawatir. Setiap saat ada risiko rumah itu ambruk atau tanah di bawahnya longsor, bahkan untuk kamar mandi pun tidak ada dan tidak ada penerangan sama sekali. Namun di situlah Abah Pepe tidur, makan, dan menghabiskan malamnya.

Sejak terjatuh beberapa waktu lalu, Abah Pepe mengalami pincang. Kakinya tak lagi kuat menopang tubuhnya seperti dulu. Untuk berjalan saja terasa sakit, namun ia tetap memaksakan diri demi bisa bertahan hidup. Untuk menyambung hidup, Abah Pepe berjualan daun singkong. Dengan langkah tertatih, ia menawarkan dagangannya dari satu tempat ke tempat lain. Hasilnya tidak seberapa, sering kali hanya cukup untuk makan seadanya. Padahal dulu, Abah Pepe pernah bekerja menjaga warung. Kini, di usia senja dan kondisi fisik yang terbatas, ia harus berjuang sendiri.

Di rumah bambu yang hampir runtuh itu, Abah Pepe menjalani hidup tanpa keluhan. Tidak ada tempat mengadu, tidak ada yang menunggu di rumah. Hanya doa dan harapan agar esok masih bisa berjualan, masih bisa makan, dan masih diberi kekuatan untuk bertahan.

Mari kita jadi alasan Abah Pepe tidak lagi berjuang sendirian. Ulurkan tangan kita untuk membantu beliau mendapatkan kehidupan yang lebih layak, rumah yang lebih aman, dan hari tua yang lebih tenang.

Perjuangan Abah Pepe Untuk Bertahan Hidup
terkumpul dari target Rp 50.000.000
