
Bantu Patri Lansia Bertahan Hidup
terkumpul dari target Rp 50.000.000
Di usia 70 tahun, Abah endang masih menggenggam palu dan peralatan patri sederhana. Setiap hari, ia berjalan kaki puluhan kilometer jauhnya menyusuri jalan demi jalan, menawarkan jasanya memperbaiki Panci bolong dengan upah yang tak seberapa, hanya sekitar 10–20 ribu rupiah sehari.

Abah endang memiliki tiga orang anak. Ada yang tinggal jauh, ada yang dekat. Namun satu hal yang sama kondisi ekonomi mereka pun sulit. Karena itu, meski tubuhnya tak lagi kuat dan langkahnya sering tertatih, Abah tetap memilih berjuang sendiri. Ia tinggal di rumah kontrakan sederhana, dan penghasilannya tak menentu. Ada hari ketika jasanya tak dipakai siapa pun. Ada hari ketika untuk makan pun Abah harus menerima uluran tangan tetangga yang iba.

Tak jarang, perut Abah endang diisi oleh kebaikan orang lain bukan karena ia malas, tapi karena hidup memang tak selalu berpihak. Namun tak pernah sekalipun Abah berhenti melangkah. Ia percaya, selama masih bisa berjalan, selama tangannya masih mampu bekerja, ia ingin tetap bertahan dan membantu anak-anaknya, walau sedikit. Langkah Abah endang mungkin pelan, tapi keteguhannya luar biasa. Di balik upah kecil dan jarak yang panjang, ada hati seorang ayah yang tak pernah menyerah pada keadaan.

Mari kita ringankan langkah Abah endang. Sekecil apa pun bantuanmu, sangat berarti untuk memastikan Abah bisa makan dengan layak dan tak harus berjalan terlalu jauh demi bertahan hidup.
Bantu Patri Lansia Bertahan Hidup
terkumpul dari target Rp 50.000.000
