
Kakek Renta Jalan Puluhan Kilo Demi Hidupi Keluarga
terkumpul dari target Rp 50.000.000
Sejak tahun 1980-an, Abah Ade sudah berjalan menyusuri kampung demi kampung, menjajakan cincau tradisional buatannya. Kini usianya menginjak 70 tahun. Rambutnya memutih, punggungnya bungkuk bukan karena usia semata, tapi karena puluhan tahun menggotong gerobak berat yang tak pernah ia tinggalkan. Setiap pagi, Abah Ade menyiapkan cincau dengan cara yang sangat sederhana. Tanpa alat modern, tanpa dapur layak, semua dikerjakan dengan tangan dan kesabaran. Dari proses yang sederhana itulah, lahir segelas cincau yang menjadi tumpuan hidupnya.

Dengan langkah tertatih, Abah berjalan hingga 10 kilometer setiap hari. Terik matahari, hujan, dan lelah tak pernah jadi alasan untuk berhenti. Karena di rumah, ada tiga anak yang masih sekolah dan menunggu uluran tangan ayahnya. Penghasilan Abah tak menentu. Kadang hanya Rp20.000–Rp30.000 sehari. Jumlah yang nyaris tak cukup untuk kebutuhan, apalagi untuk masa depan. Namun Abah tak pernah mengeluh. Jika cincaunya tak habis, ia justru membagikannya kepada anak-anak pengajian. Bagi Abah, berbagi adalah bentuk syukur, meski dirinya serba kekurangan.

Di balik punggung yang bungkuk itu, tersimpan cinta yang besar. Di balik langkah yang berat, ada tanggung jawab yang tak pernah ia lepaskan. Abah Ade terus berjalan, bukan karena kuat… tapi karena harus. Karena bagi Abah, berhenti berarti menyerah pada nasib. Dan Abah memilih bertahan, meski dalam sunyi.


Mari ringankan langkah Abah Ade. Mari bantu agar segelas cincau tak lagi menjadi satu-satunya harapan. Dukungan kecil dari kita, sangat berarti untuk kehidupan beliau dan masa depan anak-anaknya. Karena Abah Ade tak seharusnya berjuang sendirian.
Kakek Renta Jalan Puluhan Kilo Demi Hidupi Keluarga
terkumpul dari target Rp 50.000.000
