
Tanpa Listrik! Bantu difabel sebatangkara bertahan
terkumpul dari target Rp 50.000.000
Satu Malam Lagi Tanpa Bantuan, Abah Damin Bisa Kembali Lapar dan Kedinginan
Di sudut sunyi yang nyaris terlupakan, berdiri sebuah gubuk bambu tua yang rapuh. Dindingnya lapuk, atapnya berlubang, dan lantainya hanya tanah dingin. Di sanalah Abah Damin (46) bertahan hidup sendirian. Enam tahun lamanya ia hidup tanpa istri, tanpa anak, tanpa keluarga. Tak ada suara yang menyapa, tak ada tangan yang menguatkan. Hanya sepi yang menemaninya setiap hari.

Gubuk itu tak pernah mengenal cahaya listrik. Saat malam datang, gelap langsung menelan segalanya. Abah Damin hanya ditemani lampu minyak kecil dengan cahaya redup yang sering padam. Ketika hujan turun, air mengalir dari celah atap dan membasahi tubuhnya. Ia kerap terbangun di tengah malam, menggigil kedinginan, mencoba bertahan dengan tubuh yang basah dan lelah. Tak ada selimut hangat, tak ada dinding kuat untuk melindunginya dari angin malam.


Setiap subuh, dengan tubuh yang semakin melemah dan perut yang sering kali kosong, Abah Damin memaksakan diri berjalan puluhan kilometer. Ia menjajakan hasil kebun milik tetangga seperti ubi, pisang, atau apa pun yang bisa dijual. Dari kampung ke kampung ia melangkah, berharap dagangannya laku. Namun penghasilannya tak pernah pasti. Kadang hanya Rp10.000, kadang Rp25.000, dan sering kali… tak ada apa-apa.

Saat dagangan tak laku, Abah Damin memilih menahan lapar. Ia mengikat perutnya dengan tali rafia agar rasa perih sedikit berkurang. Pernah pula ia memakan sisa nasi orang lain demi menyambung hidup. Semua itu ia jalani dalam diam. Tak ada keluhan, tak ada tangisan, karena baginya bertahan hidup adalah satu-satunya pilihan.

Namun di balik kondisi hidupnya yang serba kekurangan, Abah Damin masih menyimpan keinginan dan harapan sederhana. Ia tak pernah meminta hidup mewah. Abah hanya ingin memiliki rumah yang tidak lagi bocor, tempat berlindung dari dingin dan hujan, serta sedikit modal agar bisa berjualan di satu tempat tanpa harus berjalan jauh setiap hari. “Kalau ada modal, Abah ingin punya jongko kecil… biar nggak harus jalan jauh terus,” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar.

Insan Baik, mari kita hadir untuk Abah Damin. Uluran tangan kecil dari kita bisa menjadi kehangatan besar bagi hidupnya. Karena tak seharusnya ada seseorang yang harus berjuang sendirian melawan lapar dan dingin.
Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk modal usaha, renovasi rumah serta pemenuhan kebutuhan penunjang hidup Abah Damin. Sebagian dana juga akan dialokasikan untuk penerima manfaat dan program sosial kemanusiaan lainnya di bawah naungan Amal Baik Insani.
Tanpa Listrik! Bantu difabel sebatangkara bertahan
terkumpul dari target Rp 50.000.000
